Wednesday, November 19, 2008

Anak Anjing yang Pincang

Seorang petani hendak menjual beberapa anak anjingnya. Ia membuat papan pengumuman dan memakukannya di sebatang tonggak di sudut halaman rumahnya. Ketika memaku, ia merasa baju kerjanya ditarik-tarik. Ia pun menunduk dan melihat seorang bocah lelaki dengan senyum lebar sambil membawa sesuatu di tangannya. “Pak,” katanya, “Saya ingin membeli salah satu anak anjing bapak.” “Boleh,”kata si petani, ”anak-anak anjing ini lahir dari induk yang bagus, jadi harganya cukup mahal.” Si bocah menundukkan kepalanya sebentar lalu mendongak ke arah petani itu lagi dan berkata, “Saya Cuma punya tiga puluh sembilan sen. Apakah saya boleh melihat anjingnya?” “Tentu,” kata si petani, yang segera bersiul dan memanggil, “Dolly, sini Dolly.” Dari dalam kandang, keluarlah Dolly diikuti empat anak anjing yang seperti bola kecil berbulu menyusuri jalan yang landai. Mata bocah kecil itu bergerak-gerak memancarkan kegembiraan. Lalu, dari kandang anjing yang sama keluar lagi sebuah “bola kecil”. Tampak jelas yang ini lebih kecil. Waktu menyusuri jalan landai itu, ia sempat tergelincir. Namun, ia segera berlari lagi dengan kakinya yang ternyata pincang, berusaha mengejar anak anjing yang lain. Anak anjing itu tampak paling kerdil di antara saudara-saudaranya. Bocah lelaki itu menekankan wajahnya ke pagar dan berteriak, “Aku mau yang itu,” sambil menunjuk ke arah si kerdil. Si petani berlutut dan berkata, “Nak, masa kau mau anak anjing itu? Ia tak mungkin bisa berlari dan bermain bersamamu selincah yang kau inginkan.” Bersama dengan itu si bocah menjulurkan tangannya dan perlahan mengangkat salah satu kaki celannya. Maka, tampaklah pelat baja di sepanjang kedua sisi kakinya, yang dikaitkan dengn sepatu yang dirancang khusus. Sambil mendongak ke arah si petani, ia berkata, “Bapak lihat kan, saya pun tidak bisa berlari dengan baik. Jadi, saya rasa ia butuh seseorang yang bisa memahami kelemahannya.”

Untuk menjangkau kita yang berdosa, Tuhan juga menjelma sebagai manusia, sama seperti kita.

Thursday, October 30, 2008

Story of Stanford University

Baju-Baju Yang Menipu

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .
Mereka meminta janji.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.
Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap kali menipu.

Thursday, October 23, 2008

THE ONION AND THE CHRISTMAS TREE

The family is sitting at the dinner table. The son asks his father,
"Dad, how many kinds of boobies are there?"

The father, surprised, answers, "Well son, there's three kinds of breasts.
In her twenties, a woman's breasts are like melons, round & firm.
In her thirties & forties, they are like pears, still nice, but hanging a
bit.
After fifty, they are like onions."

"Onions?" Asked the son.

"Yes, you see them, and they make you cry."

This made his wife and daughter angry so the daughter says,
"Mom, how many types of "willies" are there?"

The mother, surprised, smiles and answers, "Well dear, a man goes through
three phases.
In his twenties, his willie is like an oak tree, mighty and hard.
In his thirties & forties, it's like a birch tree, flexible but reliable.
After his fifties, it is like a Christmas tree."

"A Christmas tree??" Asked the husband.

"Yes dear, beautiful but dead from the root to top and the balls are there
for decoration only."

Wednesday, October 15, 2008

Perkosaan Massal di Tempat Parkir (Sadis)

Ini bisa dijadikan pelajaran bagi para pejantan agar dapat menahan nafsunya dan mengedepankan budaya ngantri.. dan juga bagi para betina agar tidak bertelanjang bulat di tempat parkir.. wkwkwkk






Wednesday, September 10, 2008

Mari kita rame rame merokok

hehehe ini gw dapet dari email temen gw..
bagus bgt iklannya..
Sebuah renungan dari Media Nuansa